20 December 2008

Pengantar untuk buku Pemikiran Politik SM Kartosoewirjo

Diskusi seputar Pemerintahan Islam kian marak berlangsung di Indonesia. Kampus-kampus ramai menggelar keunggulan pemerintahan Islam ini, berbagai pemikiran dari luar negeri mencuat kepermukaan; Gagasan-gagasan Abul A’la Al Maududi dari Jamaat Al Islami Pakistan, Dr. Yusuf Qaradhawi dari Ikhwanul Muslimin – Mesir maupun Taqiyuddin An Nabhani dari Hizbut Tahrir. Gegap gempita pembahasan ini mau tidak mau membuat fakta perjuangan Negara Islam pun tersingkap, dimasukkan dalam analisis diskusi demi diskusi. Berbagai penilaian atas NII pun bermunculan, dalam berbagai ragam keberpihakan.
Ketika DR. Yusuf Qardhawi mengulas tentang perjuangan NII ; “Di Indonesia, terdapat pengalaman Darul Islam yang berlindung di gunung, mereka berperang sebagai pahlawan pahlawan. Dan ini berlangsung beberapa tahun. Mereka telah melakukan contoh contoh yang menakjubkan, dan kepahlawanan yang jarang bandingannya. Kemudian, mereka diusir oleh pesawat pesawat tempur ..” Orang terperangah dan berkata mengapa para pejuang itu kalah.
Ketika Hafidz Muhammad Al Ja’bari, menuliskan tentang Darul Islam dan Al Qoid Kartossuwiryo ia menulis : “Adapun tatanan dan prinsip prinsip gerakan ini tidaklah keluar dari tuntunan Allah dan rosulNya serta hal hal yang pernah dilaksanakan oleh para sahabat rasulullah saw dan yang mengikuti mereka dalam kebaikan. Undang undang negaranya adalah syariat Allah dan kekuasaan mutlak adalah pada syari’at . Dari segi akidah orang tak ragu bahwa Al Qoid Kartosuwiryo pengikut kaum salaf. Putra putri DI Indonesia telah mengikat diri dengan kuat. Hal itu dibuktikan dengan kerasnya Al Qaid dan keinginan beliau akan berdirinya Negara Islam Indonesia berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rosulullah saw. Beliau sangat kokoh menghadapi kelompok kelompok yang ingin memasukkan tatanan dan undang undang yang didatangkan ke negeri ini, mengganti kedudukan kitab Allah. ” Orang jadi bertanya mengapa ia ditinggalkan para pengawalnya, mengapa banyak orang menyebutnya sebagai pemberontak, pengacau dan sebutan buruk lainnya ..?
Ketika telah menjadi kesepakatan (Ijma’) bahwa “Mendirikan Negara Islam merupakan suatu kewajiban yang telah disepakati ulama di segala jaman” . Orang jadi bertanya mengapa NII diburu dan dihancurkan orang, siapakah penghancur penghancur itu. Dan mengapa banyak orang ingin menghancurkannya, apakah NII didirikan di kawasan Non Muslim sehingga orang menolaknya?
Pertanyaan ini sungguh menggelitik, dimana sebenarnya letak ketergeseran penilaian ini? Pada Negara yang diproklamasikannya? pada Imam sang proklamator? pada tentara yang besertanya?, pada rakyat yang mendukungnya? Atau pada interpretasi peristiwa karena kepentingan tertentu? Bukankah sejarah milik pihak yang menang?
Banyak orang mencoba coba menjawab ini, banyak analisa mencuat kepermukaan. Banyak dari analisis mereka sering kali terkesan ‘miring’ karena mengambil referensi dari sumber yang ‘miring’ pula. Sebab buku yang beredar jauh sebelum ini, memang banyak mengungkap data kejadian, tetapi tidak menukik pada masalah yang melatar belakangi kejadian kejadian itu. Sejarah menjadi kumpulan tahun dan tanggal, tetapi menutup mata dari gagasan dasar yang menjadikan sejarah itu membentuk dirinya.
Pada penerbitan perdana bulan April tahun ini penulis mencoba menganalisis kehadiran Negara Islam Indonesia dari konsep yang mendasarinya, dari gagasan pemikiran politik proklamatornya, dengan berusaha sebanyak mungkin mengutip fikiran fikiran autentik S.M. Kartosoewirjo sendiri. Baik dalam kapasitasnya sebagai pribadi muslim yang tercerahkan maupun dalam kapasitasnya sebagai Imam Negara Islam Indonesia setelah pemerintahan itu terbentuk.
Saya tersentak melihat antusiasme pembaca atas buku ini, 9000 buku terjual habis dalam waktu satu bulan saja, diskusi diskusi kian marak, dan topik pembicaraan kini bergeser. Bukan lagi pada masalah apa dan mengapa gerombolan Kartosoewirjo, tetapi bagaimana Negara Islam Indonesia. Diskusi tidak lagi terfokus pada pribadi S.M. Kartosoewirjo, tetapi lebih terpusat pada Negara dan dokumen resminya. Ini sebuah perkembangan yang sehat dalam tataran diskusi ilmiah. Sebab sebagai pribadi baik anda maupun saya tidak ada hubungan apapun dengan pribadi besar ini. Namun sebagai sebuah kenyataan sejarah dimana S.M Kartosoewirjo hadir sebagai sosok yang memproklamasikan Negara Islam Indonesia, maka mengenal lebih jauh pribadi ini menjadi bagian dari desakan nurani ilmu pengetahuan, seperti kita ingin mengenal pribadi pribadi besar lainnya.
Mengenal masa silam adalah bagian dari upaya menatap masa depan secara lebih jernih. Negara Islam Indonesia yang lahir disaat Republik Indonesia sebagai negara mengalami krisis pemerintahan, ketika arah politik bergeser ke kiri kirian. Disini pun kita melihat dimana sifat negara yang stabil, rigid dan inhuman tidak selalu sejalan dengan sifat pemerintahan yang labil, tergantung pada siapa yang berkuasa. Baik Republik Indonesia yang telah stabil berdiri di atas dasar Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945, maupun Negara Islam Indonesia yang ditegakkan di atas dasar Islam serta menjadikan Quran dan Hadits yang shohih sebagai hukum tertinggi, dalam perjalanannya tidaklah selalu stabil seperti watak negaranya. Sebab negara sebagai wadah pada tataran praktis diisi oleh manusia sebagai pemerintah dengan integritas moral yang variatif —yakni para manusia yang menjalankan kekuasaan dalam negara tersebut. Negara Islam Indonesia, menjadikan Quran dan Hadits Shohih sebagai hukum tertinggi ini sudah pasti sebagai sebuah negara, namun bagaimana dengan kualitas pribadi tentaranya, integritas moral rakyatnya, maka ini merupakan suatu pertanyaan yang terpisah. Negara adalah satu hal, sedang rakyat dan pemerintah adalah hal yang lain. Demikian juga dengan Republik Indonesia, walaupun negaranya berdasar Pancasila, tidak demikian halnya dengan pemerintah, sejarah membuktikan betapa pemerintah RI cenderung miring ke kiri ketika Nasakom dielu elukan Presiden Sukarno. Suasana Revolusi akan menapis setiap individu sehingga nyata emas dan loyang, hingga terbukti mana yang berjalan sesuai dengan asas dan hukum tertinggi negara, dan mana yang bergeser dengan berubahnya keadaan. Pengkajian sejarah membuktikan hal ini, sebagaimana Gustav Le Bon memaparkannya dalam psychology of Revolution.
Peperangan antara RI dan NII melahirkan beragam potret psikologis anak manusia, mulai dari yang berjuang mempertahankan masing masing negaranya, hingga “kutu Loncat” yang mengambil keuntungan dari konflik ideologis tersebut. Kita pun melihat bagaimana sebuah solusi ditawarkan, bagaimana upaya mencapai tujuan dijalankan. Dari sini kata “heroik” dan “pembangkangan”, menjadi amat relatif, tergantung di fihak mana orang itu tengah berpendapat. Namun sebagai kenyataan sejarah, pergulatan bathin di tengah guruh debu dan mesiu, terlalu berarti untuk dikesampingkan.
Di dalamnya kita melihat betapa persahabatan dan permusuhan menjadi sangat relatif berhadapan dengan kepentingan memenangkan perjuangan. Pribadi besar S.M. Kartosoewirjo yang pernah menjabat sebagai wakil Presiden PSII, yang menuliskan Brosur Sikap Hijrah sebagai arah jihad PSII, akhirnya dipecat oleh karena PSII memilih untuk meninggalkan “sikap hijrah” itu dan bergabung dengan Gabungan Partai Partai Politk Indonesia lainnya guna menempuh kemerdekaan lewat jalur politik kooperatif. Akhirnya sikap konsisten pribadi besar S.M Kartosoewirjo mendorongnya untuk membuktikan sendiri apa yang digagaskannya bersama para ulama yang istiqamah dan membangun institut suffah, mempersiapkan kader negarawan yang ulama dan ulama yang negarawan, yang menjadi cikal bakal mujahid awal Negara Islam indonesia.
Setelah cetakan pertama buku ini beredar di pasaran, di saat saat sibuknya menghadiri simposium, kupas buku dan diskusi atas buku buku saya terdahulu. Pejuang maupun keluarga pejuang NII –yang walaupun secara pribadi dirinya tidak tertulis dalam buku itu namun mereka merasa memiliki peristiwa dan kejadian yang dipaparkan dalam buku tersebut– datang menemui saya. Mereka muncul dengan beragam komentar, variasi ungkapan psikologis, yang jelas kehadiran mereka menambah sejumlah data untuk diungkapkan kehadapan pembaca.
Saya merasa perlu merevisi buku yang baru saja 4 bulan terbit itu, sebab pandangan pandangan para pelaku sejarah itu sangat berharga untuk dicuatkan kepermukaan. Untuk difahami dan diambil hikmahnya, betapa sebuah revolusi membentuk karakter para pelakunya, dan atas tuntutan objektivitas, maka dalam terbitan ini, semua pandangan dan gagasan Kartosoewirjo, baik sebagai individu maupun imam Negara Islam Indonesia, seluruhnya saya lampirkan di akhir buku ini.
Beberapa bagian dari buku ini saya hilangkan, beberapa cuplikan berita koran yang akhirnya saya ragukan kredibilitas pewartanya, setelah mendengar pengakuan para pelaku sejarah tersebut, terpaksa saya hapus. Diganti dengan analisa tambahan berdasarkan wawancara wawancara baru dengan para pelaku tadi. Dengan terbitnya edisi revisi ini, sekaligus meralat terbitan sebelumnya. Dan apa yang tidak ada di edisi revisi ini, harus dianggap tidak ada pada edisi sebelumnya.
Semoga terbitnya edisi revisi ini, dengan idzin Allah, mampu membangkitkan nuansa baru pada pembahasan dan diskusi diskusi Negara Islam Indonesia di masa masa mendatang. Aamiin Ya Robbal ‘Alamiin.

Jakarta 17 Jumadil Ula 1420 H
29 Agustus 1999 M



Al Chaidar

2 comments:

Qonita Lillahi Hanifa said...

Siapa sih Al Chaidar itu??/? penerus Ato penghalang perjuangan darul islam, duri dalam daging ato memang duri

Toha said...

Beliau adalah pengamat sejarah politik. Beliau bukan pengecam, beliau adalah seorang Abdullah yang berusaha meluruskan sejarah yang telah beberapa dekade diselewengkan.